Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 28 Februari 2011

Pandangan Sosiologi dan Implikasinya Terhadap Pendidikan

1. Pengertian Sosiologi
Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang struktur social, proses sosial, dan perubahannya. Sosiologi juga diartikan sebagai sebuah ilmu kemasyarakatan atau ilmu masyarakat yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antara manusia bersama dengan sesamanya dalam masyarakat.
Dalam kaitannya dengan pendidikan dikenal istilah sosiologi pendidikan, yaitu ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik. Sedang menurut Nasution sosilogi pendidikan adalah analisis atas proses sosial dan pola-pola social yang terdapat dalam system pendidikan.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang otonom mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Sifat umum, membahas prinsip hubungan antar manusia pada umumnya dan bukanlah orang perorangan atau daerah perdaerah. Jadi sosiologi adalah ilmu masyarakat pada umumnya dan bukanlah masyarakat tertentu saja.
2. Sifat kategoris, bahwa sosiologi menyatakan apa adanya hubungan antar manusia di dalam masyarakat dan bukan bersifat normatif. Sosiologi hannya mengungkap masalah hubungan antar manusia sebagaimana adanya.
3. Sosiologi adalah ilmu yang menggeneralisasi dan bukan mengindividualisasi, pengaruh keumuman dan tidak kekhususan, juga bersifat mengabstrak dan tidak mengkongkrit.
Obyek dan ruang lingkup sosiologi yaitu:
1. Individu dengan individu
2. Individu dengan kelompok
3. Group dengan group
4. Individu dengan masyarakat
5. Masyarakat dengan individu
6. Masyarakat dengan masyarakat
7. Percampuran kebudayaan
8. Bentuk interaksi sosial
9. Kelembagaan dan strukturnya
10. Dinamika sosial
Dapat disimpulkan bahwa sosiologi mengkaji prilaku manusia dan hubungannya dengan personal lainnya. Pada umumnya, seluruh prilaku manusia dipelajarinya melalui hubungannya dengan manusia lainya, baik di rumah, sekolah, tempat permainan, pekerjaan dan sebagainya.
2. Pandangan sosiologi terhadap manusia
Dalam pandangan sosiologi manusia adalah animal sociale (binatang yang hidup bermasyarakat). Manusia adalah makhluk social. Dia tidak dapat hidup dengan tenang tanpa interaksi dengan orang lain. Manusia mesti memiliki interaksi antara satu dengan yang lain. Dengan adanya interaksi itu maka timbullah pengaruh mempengaruhi satu sama lain pada orang atau kelompok yang mengadakan interaksi. Hingga terjadilah perubahan di dalam perasaan, pikiran, sikap, tindakan dan sebagainya.
Mengenai interaksi dapat dibedakan menjadi dua macam:
1. Interaksi langsung, yaitu terdiri atas kegiatan yang mencakup keseluruhan gerak orang yang dapat diamati di dalam tingkah laku. Misalnya , dua orang yang mengangkat meja untuk dipindahkan ke suatu tempat maka kedua orang tadi mempunyai tingkah laku (perbuatan) yang satu sama lain pengaruh mempengaruhi.
2. Interaksi syimbolis, yakni interaksi tidak langsung dalam interaksi syimbolik terdiri atas bahasa lisan ataupun gerakan badan yang semuanya itu berupa bahasa, baik lisan maupun tulisan.
Komunikasi merupakan faktor yang amat penting di dalam proses interaksi komunikasi tidak hannya berupa transportasi, pemindahan, tetapi juga berarti penyebaran perluasan. Dengan adanya reaksi maka timbullah pola tingkah laku baru, yakni tingkah laku social atau tingkah laku kelompok.

3. Implikasi sosiologi dalam pendidikan
1. Konsep-konsep sosiologi tentang manusia menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan.
2. Masyarakat sebagai ekologi pendidikan atau sebagai lingkungan tempat berlangsungnya pendidikan.
3. Pendidikan merupakan sosialisasi atau proses menjadi anggota masyarakat yang diharapkan.
4. Implikasi sosilogi dalam pengembangan Teori pendidikan
1. Mendorong lahir dan berkembangnya sosiologi pendidikan
2. Mendorong lahir dan berkembangnya ilmu pendidikan kependudukan
3. Mendorong lahir dan berkembangnya aliran sosiologisme pendidikan

Kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegrastif. Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat tentu saja mempengaruhi pendidikan, baik sebagai ilmu maupun aktivitas. Itulah sebabnya John Dewey (1859-1952) menganggap bahwa begitu esensialnya hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat. Dewey beranggapan bahwa pendidikan tumbuh di masyarakat dan masyarakat tumbuh karena adanya pendidikan. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat mutual benefit, artinya saling menguntungkan bahkan merupakan suatu ikatan yang secara aksiomatik sulit dan mustahil untuk dipisahkan.

12 komentar:

Pengunjung yang terhormat...Silahkan tinggalkan jejak dengan komentar, pendapat dan saran, bebas asal sopan....OKE..!!!