Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 02 September 2010

Membumikan pendidikan kepribadian

KERESAHAN generasi tua menyaksikan kaum muda berperilaku menyimpang dalam kehidupan telah mencapai puncak keprihatinan.Telah banyak dikupas secara mendalam oleh para pakar betapa pentingnya pendidikan karakter suatu bangsa.
Selama ini praktik pendidikan kepribadian baik di lingkup pendidikan formal, informal, maupun non formal masih memprihatinkan.Pro kontra keberadaan pendidikan kepribadian telah banyak menyita waktu. Yang pasti dalam jenjang formal, pendidikan kepribadian telah dititipkan pada berbagai mata pelajaran dengan harapan siswa akan memiliki bekal kepribadian yang baik dalam kehidupannya.
Ranah pendidikan yang ideal mencakup kognitif (pengetahuan), psikomotorik (keterampilan), dan afektif (sikap). Ketiga ranah ini seharusnya dikembangkan secara optimal dan proporsional. Yang pantas dipertanyakan, sudahkah dunia pendidikan mengembangkan secara maksimal? Di akhir tahun pelajaran dunia pendidikan sibuk menyukseskan kelas akhir untuk menyongsong ujian nasional (UN). Saking takutnya akan kegagalan UN sekolah berupaya semaksimal mungkin dengan segala daya untuk menggapai nilai setinggi-tingginya. Sayangnya, upaya yang berdarah-darah tersebut baru mampu mengembangkan ranah pengetahuan belaka. Aspek sikap begitu mudah dilupakan dan dipinggirkan secara tidak sadar.

Bila bangsa ini memiliki komitmen kuat dalam membumikan pendidikan kepribadian, memang sangat perlu ada reposisi dan reaktualisasi dalam penerapan pendidikan karakter bangsa ini. Kiranya tidak cukup pengambil kebijakan hanya mengandalkan pendidikan formal saja dalam melestarikan jatidiri bangsanya. Praktik pendidikan formal telah banyak menyajikan tentang perilaku mulia sebagai bangsa. Persaudaraan, toleransi, santun dalam bicara, berbuat, ketakwaan, dsb.Nilai-nilai mulia yang telah diterima siswa di bangku pendidikan, setelah pulang ke rumah dan masyarakat begitu mudah dilupakan.Kenyataannya, sajian perilaku masyarakat dan keluarga justru sangat mendominasi jiwa anak dalam perkembangannya.
Rasanya sangat sulit untuk menjadikan siswa yang santun bila lingkungan anak baik keluarga dan masyarakatnya tidak santun.Menyadari betapa pentingnya pendidikan kepribadian, budi pekerti anak-anak bangsa sangat perlu adanya kemauan kuat dari berbagai pihak. Pengaruh media cetak dan elektronik, seperti televisi dan internet sangat mendominasi jiwa anak secara penuh. Peran media televisi sangat besar dalam menanamkan nilainilai mulia suatu bangsa. Bila saat ini dunia televisi hanya gandrung dalam penayangan iklan dan sinetron jangan kaget bila generasi yang akan datang menjadi orang konsumtif dan pandai bensandiwara. Tayangan televisi dan internet akan menjadi pembelajaran langsung bagi seorang anak. Oleh karena itu peran komisi penyiaran memegang peran strategis dalam hal ini.
Imbauan budaya daerah (Jawa) sebagai materi muatan lokal di jenjang sekolah sangat menggembirakan (SM 15/3/2010). Selama ini siswa lebih mengenal budaya asing daripada budayanya sendiri. Belum banyak sekolah menampilkan pentas seni budaya daerah, mereka lebih bangga dengan musik barat, pop, dan seakan-akan meremehkan budaya adiluhung nenek moyang kita. Fakta ini tidak cukup diresahkan oleh para pimpinan, tetapi perlu adanya perilaku nyata oleh para kepala sekolah, kepala daerah, sampai kepala negara.
Sungguh ironis anak Jawa yang tidak dapat berbahasa Jawa, mereka justru bangga dengan bahasa asing yang dianggap lebih gengsi dan keren. Sementara orang inggris sendiri meskipun telah maju dalam teknologi, tingkat ekonomi mereka tidak melupakan budaya asli nenek moyangnya. Orang jepang yang terkenal dengan teknologi canggih dan raja ekonomi dunia, mereka tetap cinta budaya jepang, bahasa jepang, dan tidak tergila-gila dengan budaya dan bahasa asing.
Budaya malu
Implementasi pendidikan kepribadian cakupannya sangat luas. Untuk dapat menggapai tataran pribadi yang baik, kiranya sangat perlu ditanamkan sikap malu berbuat jelek.Malu dimaknai merasa tidak enak hati, hina, atau rendah karena berbuat sesuatu yang kurang baik, kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan (KBBI, 2002:706). Orang yang memiliki rasa malu berbuat jahat, ia akan hati-hati dalam berbuat dan jangan sampai pembuatannya dianggap jahat oleh orang lain. Ini berarti orang yang malu dikatakan jahat akan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan tidak akan melanggar aturan yang telah ditetapkan.
Penanaman budaya malu ini sangat efektif bila dimulai sejak anak-anak. Ini berarti peran pendidikan keluarga merupakan basis pokok memulainya. Nilai yang telah tertanam di keluarga ini akan mudah dikembangkan di jalur pendidikan formal dan masyarakat secara luas. Konon rakyat Jepang dapat maju dengan pesat, salah satunya memiliki budaya malu yang tinggi. Siswa Jepang akan malu bila mereka tidak berprestasi, demikian pula pemimpin Jepang akan malu bila perilakunya dianggap salah oleh rakyatnya. Mereka rela mengundurkan diri dari jabatannya atau bahkan berani bunuh diri demi menutupi rasa malu tersebut.
Budaya malu tidak cukup diwacanakan dan diperdebatkan, perilaku ini lebih efektif bila dibuktikan dengan tindakan nyata. Di negeri tercinta ini ternyata belum banyak praktik budaya malu. Pemimpin yang salah dan telah di vonis pun tetap tegar dan tidak merasa malu, mereka masih beralibi tentang tindakannya tersebut. Budaya mundur dari jabatan yang mereka pegang karena berbuat yang tidak benar belum terbiasa di negeri ini.Sampai saat ini penulis baru mendengar berita pengunduran diri seorang ketua RT dan RW.
Pendidikan suatu bangsa akan mewarnai perilaku generasinya, oleh karena itu bila bangsa ini menghendaki generasi mudanya memiliki jatidiri dan berkepribadian baik sangat perlu memiliki jiwa jujur dan sikap malu berbuat jahat secara mantap. Mewujudkan generasi yang berbudaya mulia membutuhkan proses yang panjang. Faktor yang mempengaruhi proses pendidikan pun beraneka macam, oleh karena itu bila menghendaki terciptanya generasi bangsa yang baik, aneka komponen bangsa ini memang harus berbuat yang baik pula. Peran pemimpin formal maupun non formal, orang tua, guru, media massa memiliki andil yang tidak sedikit.
Yang pasti pendidikan kepribadian tidak cukup dibahas dan dikaji saja, nilai-nilai mulia ini harus ditanamkan, dipraktikkan dalam kehidupan secara nyata. Semoga.

1 komentar:

  1. Sangat menarik dibacanya pa. Tetap menulis tulisan-tulisan yang bisa bermanfaat pa.

    Kunjungi juga ya pa http://membumikan-pendidikan.blogspot.com/

    BalasHapus

Pengunjung yang terhormat...Silahkan tinggalkan jejak dengan komentar, pendapat dan saran, bebas asal sopan....OKE..!!!